Gibah adalah membicarakan keburukan orang lain.

ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ - ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ - ﻗَﺎﻝَ « ﺃَﺗَﺪْﺭُﻭﻥَ ﻣَﺎ ﺍﻟْﻐِﻴﺒَﺔُ » . ﻗَﺎﻟُﻮﺍ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻭَﺭَﺳُﻮﻟُﻪُ ﺃَﻋْﻠَﻢُ . ﻗَﺎﻝَ « ﺫِﻛْﺮُﻙَ ﺃَﺧَﺎﻙَ ﺑِﻤَﺎ ﻳَﻜْﺮَﻩُ » . ﻗِﻴﻞَ ﺃَﻓَﺮَﺃَﻳْﺖَ ﺇِﻥْ ﻛَﺎﻥَ ﻓِﻰ ﺃَﺧِﻰ ﻣَﺎ ﺃَﻗُﻮﻝُ ﻗَﺎﻝَ « ﺇِﻥْ ﻛَﺎﻥَ ﻓِﻴﻪِ ﻣَﺎ ﺗَﻘُﻮﻝُ ﻓَﻘَﺪِ ﺍﻏْﺘَﺒْﺘَﻪُ ﻭَﺇِﻥْ ﻟَﻢْ ﻳَﻜُﻦْ ﻓِﻴﻪِ ﻓَﻘَﺪْ ﺑَﻬَﺘَّﻪُ »

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tahukah engkau apa itu gibah?” Mereka menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.” Beliau berkata, “Engkau menyebutkan keburukan saudaramu yang ia tidak suka untuk didengarkan orang lain.” Beliau ditanya, “Bagaimana jika yang disebutkan sesuai kenyataan?” Jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Jika sesuai kenyataan berarti engkau telah menggibahnya. Jika tidak sesuai, berarti engkau telah memfitnahnya.”[1]

Imam Abu Zakariyya An Nawawi rahimahullah mengatakan, “Gibah adalah sesuatu yang amat jelek, namun tersebar dikhalayak ramai. Yang bisa selamat dari tergelincirnya lisan seperti ini hanyalah sedikit. Gibah memang membicarakan sesuatu yang ada pada orang lain, namun yang diceritakan adalah sesuatu yang ia tidak suka untuk diperdengarkan pada orang lain. Sesuatu yang diceritakan bisa jadi pada badan, agama, dunia, diri, akhlak, bentuk fisik, harta, anak, orang tua, istri, pembantu, budak, pakaian, cara jalan, gerak-gerik, wajah berseri, kebodohan, wajah cemberutnya, kefasihan lidah, atau segala hal yang berkaitan dengannya. Cara gibah bisa jadi melakui lisan, tulisan, isyarat, atau bermain isyarat dengan mata, tangan, kepala, atau semisal itu.”[2]

Disebabkan karena hukum asal seorang muslim adalah selamat, maka seorang muslim hendaknya selamat dari muslim yang lain, termasuk selamat dari lisannnya. Gibah terhadap seorang muslim hukumnya haram dan ulama telah ijmak bahwa gibah adalah dosa besar.

Abu Mariyyah Al Quraisyi mengatakan dalam Nurul Yaqin, “(Hukum) asal pada diri seorang muslim adalah selamat. (Al Mughni, 2/27).”

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
ﺍﻟﻤﺴْﻠِﻢُ ﻣَﻦْ ﺳَﻠِﻢَ ﺍﻟﻤﺴْﻠِﻤُﻮْﻥَ ﻣِﻦْ ﻟِﺴَﺎﻧِﻪِ ﻭَﻳَﺪِﻩِ
“Seorang muslim adalah orang yang selamat orang muslim lainnya dari lisan dan tangannya.”[3]

Allah Ta'ala berfirman,
ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳْﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮْﺍ ﺍﺟْﺘَﻨِﺒُﻮْﺍ ﻛَﺜﻴﺮًﺍ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻈَّﻦِّ ﺇِﻥَّ ﺑَﻌْﺾَ ﺍﻟﻈَّﻦِّ ﺇِﺛﻢٌ ۖ ﻭَﻟَﺎ ﺗَﺠَﺴَّﺴُﻮْﺍ ﻭَﻟَﺎ ﻳَﻐْﺘَﺐْ ﺑَﻌْﻀُﻜُﻢُ ﺑَﻌْﻀًﺎ ۚ ﺃَﻳُﺤِﺐُّ ﺃَﺣَﺪُﻛُﻢ ﺃَﻥْ ﻳَﺄﻛُﻞَ ﻟَﺤْﻢَ ﺃَﺧِﻴْﻪِ ﻣَﻴْﺘًﺎ ﻓَﻜَﺮِﻫْﺘُﻤُﻮْﻩُ ۚ ﻭَﺍﺗَّﻘُﻮْﺍ ﺍﻟﻠَّﻪَ ۚ ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﺗَﻮّﺍﺏٌ ﺭَﺣﻴﻢٌ
“Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak prasangka. Sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa. Janganlah kamu mencari kesalahan orang lain dan jangan di antara kalian menggunjing sebagian yang lain. Apakah di antara kalian suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kalian akan merasa jijik. Bertakwalah kalian pada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Tobat dan Maha Penyayang.”[4]

'Umar bin Mahmud mengatakan, “Ayat pada Surat Al Hujurat ini datang mengupas hukum Allah Ta’ala untuk menyelesaikan konflik antarumat Islam.” Beliau kemudian mengatakan, “Cara Alquran ketika menyebut hukum-hukum larangan suatu perbuatan di antaranya dengan menyebut teknis menghilangkan sarana kejahatan, seperti pada Surat An Nur pada subjek terapi kejahatan perzinahan.”[5]

‘Umar bin Mahmud juga mengatakan, “Imam Al Qurthubi rahimahullah menyatakan ijmak ulama bahwa gibah termasuk dosa besar, suatu perbuatan haram yang merusak agama dan amal seseorang.”[6]

Seorang penuntut ilmu hendaknya menjauhkan diri dari dosa ini. Tidak diragukan lagi bahwa gibah termasuk dosa besar yang dapat menyebabkan seseorang terhalang dari hidayah dan ilmu.

Imam Muhammad bin Idris Asy Syafi'i rahimahullah dalam syairnya yang terkenal berkata,
ﺷَﻜَﻮْﺕُ ﺇِﻟَﻰ ﻭَﻛِﻴْﻊٍ ﺳُﻮْﺀَ ﺣِﻔْﻈِﻲ
ﻓَﺄَﺭْﺷَﺪَﻧِﻲْ ﺇِﻟَﻰ ﺗَﺮْﻙِ ﺍﻟْﻤَﻌَﺎﺻِﻲ
ﻭَﺃَﺧْﺒَﺮَﻧِﻲْ ﺑِﺄَﻥَّ ﺍﻟْﻌِﻠْﻢَ ﻧُﻮْﺭٌ
ﻭَﻧُﻮْﺭُ ﺍﻟﻠﻪِ ﻟَﺎ ﻳُﻬْﺪَﻯ ﻟِﻌَﺎﺻِﻲ
Aku mengeluhkan jeleknya hafalanku kepada Waqi’
Maka beliau pun menganjurkan kepadaku untuk meninggalkan kemaksiatan
Beliau juga mengabarkan kepadaku bahwasanya ilmu itu adalah cahaya
Dan cahaya Allah tidaklah diberikan kepada pelaku kemaksiatan

Saat ini, gibah telah mewabah di mana-mana. Tidak hanya bagi masyakarat umum, namun juga bagi penuntut ilmu. Hal ini sangat disayangkan karena gibah memiliki banyak dampak buruk yang sangat luar biasa bagi kehidupan. Bahkan tak arang gibah ini muncul di kalangan orang yang dianggap ulama oleh sebagian orang dengan dalih jarh wa ta'dil.[7] Begitu pula sebagian penuntut ilmu bahkan terkecoh dengan gibah hingga mereka membiarkan gibah dan lebih berfokus pada hal lain yang lebih rendah dari itu seperti rokok.[8]

‘Umar bin Mahmud mengatakan, “Penyakit gibah sangat berbahaya dan telah mewabah di masyakarakat secara meluas terutama pada para penuntut ilmu dan orang-orang yang bersegera mengerjakan ketaatan pada Allah seperti mujahidin. Mereka tidak mewaspadai bahayanya serta tidak menganggapnya serius. Bahkan di antara mereka ada yang mengira bagian dari agama akibat ketergelinciran setan dan mengikuti hawa nafsu. Akhirnya mereka mengangap gibah bagian dari suatu penyampaian ilmu, upaya menyelisihi para penyimpang, dan ahli bidah. Anggapan tersebut salah, bahkan tidak ada kebaikannya, kecuali mengikuti syahwat diri dengan sikap ghurur (ketertipuan) dan menonjolkan diri. Sedikit dari gibahnya itu yang bisa diambil manfaat oleh masyarakat bahkan hampir-hampir tidak ada manfaatnya sedikit pun. Perselisihan antarmazhab, soal baiat, dan kelompok-kelompok jemaah wajib berdiri di atas garis ilmu. Orang-orang harus saling memperhatikan apa yang dikatakan ilmu supaya produk lisan bisa bermanfaat bagi makhluk. Sedangkan membongkar perihalnya, informasi, dan amalannya untuk menjatuhkannya serta mencela pada agamanya merupakan hawa nafsu, keburukan pribadi, dan keburukan agama.”[9]

'Umar bin Mahmud juga mengatakan, “Gibah adalah maksiat besar, tidak hanya merusak kebaikan seseorang dan mendapatkan keburukan yang luas, tapi juga merusak nama baik seseorang, menyakiti seseorang tanpa ada solusi hingga terjadi permusuhan serta menyibukkan manusia dengan kejahatan dan fitnah. Dalam banyak kasus menimbulkan pertumpahan darah yang terlindungi. Seseorang yang hobi membongkar aurat manusia akan membuatnya suka berdusta dan memproduksi informasi palsu. Keimanan adalah satu-satunya solusi. Ya Allah, rahmatilah kami dengan kasih sayang-Mu. Siapa saja yang dalam hatinya tertambat negeri akhirat akan menjauhi dosa ini dan itu lebih selamat bagi agama dan kehormatannya.”[10]

Nabil bin 'Ali Al 'Awwadhi mengatakan, “Syaikh Shalih Al Fauzan, ada rekaman beliau yang bagus bahwa pada zaman ini tidak ada jarh wa ta'dil, yang ada terjadi hari ini hanyalah gibah dan adu domba.”[11]

Mahmud Fauzan Al 'Abduzhzhahir
23 Rajab 1441 H

Catatan kaki:

[1] HR. Muslim no. 2589.

[2] Lihat Al Adzkar halaman 597.

[3] HR. Al Bukhari no. 10 dan Muslim no. 40.

[4] QS. Al Hujurat : 12.

[5] https://pustakaqolbunsalim.com/terjemahan/wabah-ghibah-dikalangan-penuntut-ilmu-dan-aktivis

[6] Loc.cit.

[7] Syaikh Abu Hafsh Asy Syami rahimahullah berkata, “Jarh adalah ilmu yang menerangkan lemahnya perawi karena ketidakketepercayaan mereka.”

[8] Dikisahkan oleh Abu 'Abdillah Al Banjari menukil dari Syaikh Abu Bakr Al Qahthani rahimahullah.

[9] https://pustakaqolbunsalim.com/terjemahan/wabah-ghibah-dikalangan-penuntut-ilmu-dan-aktivis

[10] Loc.cit.

[11] https://m.youtube.com/watch?v=Ei4oLG45jyANurul Yaqin,