Kesultanan ‘Uman atau Oman adalah sebuah negara 'Arab di Asia Barat Daya di pesisir tenggara Jazirah 'Arab. Oman berbatasan dengan Uni Emirat 'Arab di barat laut, Arab Sa'udi di barat, dan Yaman di barat daya. Pesisir ini dibentuk oleh Laut 'Arab di tenggara dan Teluk Oman di timur laut. Enklave Madha dan Musandam dikelilingi oleh UEA di perbatasan daratnya, dengan Selat Hormuz dan Teluk Oman membentuk perbatasan pantai Musandam.[1]

Negara Oman secara resmi bermazhab dengan salah satu mazhab ahli bidah, yaitu mazhab Khawarij 'Ibadhi.[2]

Hussain bin Mahmud mengatakan, “Ibnu Hazm mengatakan, "Siapa pun yang menyamai Khawarij dalam hal mengingkari tahkim (antara 'Ali dan Mu'awiyyah radhiallahu'anhuma), mengafirkan pelaku dosa besar, berpendapat harus keluar melawan imam yang zalim, berpendapat bahwa pelaku dosa besar kekal di neraka, dan imamah 'uzhma boleh disematkan kepada selain Quraisy, maka ia adalah termasuk? Khawarij sekalipun menyelisihi Khawarij pada selain hal yang telah disebutkan itu. Namun jika ia menyelisihi Khawarij dalam hal yang telah kami sebutkan itu, maka ia bukanlah Khawarij.” (Al Fashl fil Milal wan Nihal)”[3]

Mazhab 'Ibadhi ini tergolong mazhab Khawarij yang besar.

Syaikh Abu Humam Al Atsari rahimahullah mengatakan, “Imam Asy Syahrastani rahimahullah menuturkan saat menyebutkan kelompok-kelompok Khawarij yang sesat, di mana beliau berkata, “Dan firkah-firkah terbesar dari mereka adalah Muhakkimah, Azariqah, Najdad, Bahsiyyah, ‘Ajaridah, Tsa’alibah, 'Ibadhiyyah, dan Shafariyyah, sedangkan yang lain adalah cabang-cabang mereka, dan mereka disatukan dengan pendapat: keberlepasan diri dari 'Utsman dan 'Ali radhiallahu ‘anhuma dan mereka mengedepankan hal itu terhadap segala ketaatan dan mereka tidak mengesahkan pernikahan, kecuali di atas hal itu.” (Al Milal wan Nihal, hal. 54)”[4]

Hussain bin Mahmud mengatakan, “Al 'Ibadhiyyah adalah pengikut 'Abdullah bin 'Ibadh At Tamimi yang berasal dari Yamamah. Mereka keluar pada masa Pemerintahan Marwan bin Muhammad. Mungkin merekalah Khawarij yang paling ringan keekstremannya. Mereka masih ada sampai saat ini di Oman dan Maghrib. Sekarang 'Ibadhiyyah menolak jika dikatakan mereka adalah Khawarij.”[5]

Dalam situs resmi Pemerintah Oman dikatakan, “Ibadhiyyah adalah aliran pemikiran Islam yang khusus, bukan Sunni atau pun Syi'ah, yang tumbuh di awal kelahiran zaman Islam dan hingga hari ini tetap eksis di negara-negara kecil di Afrika dan tetap dominan di Oman. 'Ibadhi didirikan oleh 'Abdullah bin 'Ibadh di Bashrah pada tahun 680 Masehi, sebagai kelompok Khariji moderat yang melawan pemberontak bersenjata dan pembunuhan politis serta berkeinginan hidup dalam harmoni dengan kaum muslim lainnya. Dalam teologinya, 'Ibadhi menolak terjemahan harfiah atas pendeskripsian mengenai Tuhan dan tidak menerima pendapat bahwa orang dapat melihat Tuhan dalam kehidupan ini dan kehidupan setelah mati. Kelompok 'Ibadhi juga ditemukan di negara-negara seperti Libya, Tunisia, Algeria, dan negara-negara Afrika Timur bahkan di Cina.”[6]

‘Umar bin Mas'ud Al Haddusyi mengatakan, “Khawarij tidak ada pada hari ini, kecuali di Kesultanan 'Uman dan sebagian dari mereka di beberapa negara di sini dan di sana.”[7]

Secara umum pandangan mazhab 'Ibadhi juga sebagaimana mazhab Khawarij pada umumnya, misalnya mereka berpandangan bahwa Alquran itu makhluk, mengambil petunjuk dari Alquran dan menolak hadis yang tidak sesuai dengan petunjuk itu secara mutlak, dan bolehnya khalifah dipegang selain dari suku Quraisy.[8]

Hussain bin Mahmud dalam Bahtsun fil Khawarij menukil perkataan Imam Abul Hasan Al Asy'ari rahimahullah dalam Maqalatul Islamiyyin, “Semua firkah Khawarij berpendapat bahwa Alquran adalah makhluk.”

Hussain bin Mahmud juga dalam Bahtsun fil Khawarij menukil dari Imam Ibnu Hajar Al Asqalani rahimahullah dalam Fathul Bari, “Prinsip-prinsip yang disepakati mereka di antaranya adalah mengambil petunjuk Alquran dan menolak hadis yang tidak sesuai dengan petunjuk itu secara mutlak.”

Hussain bin Mahmud juga menukil dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah dalam Majmu' Fatawa, “Mereka tidak mengikuti sunah karena mereka kira sunah menyelisihi Alquran, seperti rajam, nishab pencurian, dan lainnya sehingga sesatlah mereka.”

Syaikh Abu Humam Al Atsari rahimahullah mengatakan, “Qadhi ‘Iyyadh rahimahullah mengatakan, “Pensyaratan keberadaan imam itu dari keturunan Qurasiy adalah mazhab semua ulama dan mereka telah menganggapnya sebagai masalah yang diijmakan dan tidak ada penyelisihan di dalamnya dari seorang ulama salaf pun radhiallahu‘anhum ajma’in, dan begitu juga para ulama setelah mereka dari semua negeri.” Beliau mengatakan, “Dan tidak perlu dianggap pendapat Khawarij dan Mu’tazilah yang selaras dengan mereka.” (Fathul Bari, Kitabul Ahkam, Bab Al Umara Min Quraisy)(Lihat Al Milal wan Nihal milik Asy Syahrastani, hal. 116)”[9]

Syaikh Abu Humam Al Atsari rahimahullah juga mengatakan dalam kitab yang sama, “Imam Asy Syahrastani rahimahullah mengatakan perihal Khawarij, “Sesungguhnya pembangkangan mereka di zaman awal itu hanyalah terhadap dua hal: pertama, bidah mereka di dalam kepemimpinan di mana mereka itu membolehkan kepemimpinan itu bukan pada Quraisy.” (Al Milal wan Nihal, hal. 55)”

Mazhab 'Ibadhi memiliki keunikan di banding mazhab Khawarij lainnya, yaitu 'Ibadhi memandang orang selainnya dari kalangan kaum muslimin sebagai kuffur ni'mah dan kaum kafir sebagai kuffur syirk.[10] Pendapat bidah ini memang sangat berbeda dengan kaum Khawarij lainnya.

Di sisi Khawarij 'Ibadhi merupakan firkah Khawarij yang paling ringan keesktremannya, 'Ibadhi juga memiliki kesuksesan dalam politik dengan dibuktikan eksisnya Kesultanan Oman hingga hari ini. Ini tidak seperti Khawarij lainnya yang selalu gagal dalam berpolitik.

Muhaddits 'Abdul 'Aziz bin Marzuq Ath Tharifi mengatakan, “Suatu negara berpaham Murji'ah dapat dibentuk, tetapi tidak dengan negara Khawarij, karena Allah menegakkan negara dengan keadilan, bukan atas dasar kezaliman, dan sebagian besar kezaliman Murji'ah adalah dalam agama, sedangkan kezaliman Khawarij adalah dalam urusan duniawi juga dalam agama.”[11]

Untuk saat ini, negara Khawarij Oman dipimpin oleh Sulthan Haitsam bin Thariq Alu Sa'id[12] yang menggantikan Sulthan Qabus bin Sa'id yang meninggal pada 10 Januari 2020 lalu.[13] Negara Khawarij Oman saat ini cukup dikenal dalam menyerukan toleransi dan dialog antaragama sebagaimana yang disebutkan dalam laman resmi Pemerintah Oman. Dikatakan, “Sejak bertahun-tahun lamanya, Pemerintah Oman mempromosikan dialog antaragama untuk membantu perkembangan toleransi beragama, saling memahami, dan koeksistensi damai dalam skala global. Kegiatan ini terdiri dari pertemuan dan konferensi internasional secara rutin, pameran, kuliah (ceramah), publikasi, dan dukungan kepada lembaga-lembaga dan aktivitas antaragama.”[14]

Mahmud Fauzan Al 'Abduzhzhahir
23 Rajab 1441 H

Catatan kaki:

[1] https://id.m.wikipedia.org/wiki/Oman

[2] https://en.m.wikipedia.org/wiki/Oman

[3] Silahkan lihat Bahtsun fil Khawarij karya Hussain bin Mahmud.

[4] Silahkan lihat Tabshirul Muhajij bil Farqi baina Rijalud Daulatul Islamiyyah wal Khawarij karya Syaikh Abu Humam Al Atsari rahimahullah.

[5] Silahkan lihat Bahtsun fil Khawarij karya Hussain bin Mahmud.

[6] http://www.islam-in-oman.com/id/ibadhiyah.html

[7] http://youtu.be/iO_Ah7seMAU

[8] http://sainform.blogspot.com/2015/10/mengenal-aliran-ibadi-dan-pemikirannya.html?m=1

[9] Silahkan lihat Tabshirul Muhajij bil Farqi baina Rijalud Daulatul Islamiyyah wal Khawarij karya Syaikh Abu Humam Al Atsari rahimahullah.

[10] http://sainform.blogspot.com/2015/10/mengenal-aliran-ibadi-dan-pemikirannya.html?m=1

[11] https://www.arrahmah.com/kultwit-syaikh-abdul-azis-turaifi-tentang-khawarij-masa-kini/#

[12] https://en.m.wikipedia.org/wiki/Haitham_bin_Tariq_Al_Said

[13] https://en.m.wikipedia.org/wiki/Qaboos_bin_Said

[14] http://www.islam-in-oman.com/id/dialog-antar-agama.html